Bukan Tiongkok Melainkan AS Yang Kian Agresif

2021-05-04 10:51:23  

Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Antony Blinken pada 2 Mei lalu mengkritik Tiongkok semakin “agresif” dalam hubungan dengan luar negeri, dan menurut Blinken, Tiongkok melakukan hal itu untuk menjadi “negara yang berposisi dominan di dunia”. Kepada media AS, Antony Blinken bersilat lidah bahwa AS tidak berniat membendung atau menindas Tiongkok, melainkan membela ketertiban dan peraturan internasional yang “ditantang” oleh Tiongkok. Seperti apa yang diketahui umum, AS sejak lama melakukan intervensi terhadap negara lain dengan kedok “keadilan” dengan menggunakan “peraturan AS” untuk menggantikan “peraturan internasional”.

Selama puluhan tahun yang lalu, dunia menyadari bahwa “peraturan AS” adalah ikhtiar atau instrumen yang digunakan AS untuk mewujudkan target strategisnya. Dengan kata lain “peraturan” AS sama dengan penggunaan kekuatan militer, pengisolasian politik, sanksi ekonomi dan blokade teknologi terhadap negara lain. Dari Afghanistan, Irak, Libya hingga Suriah, AS terus menyulut api perang. Dari “revolusi warna” di negara-negara Eropa dan Asia hingga “yurisdiksi lengan panjang” terhadap Iran, Kuba, Venezuela dan Tiongkok, tangan koersif AS bergurita ke mana-mana.

Selain negara-negara tersebut, organisasi internasional juga tidak luput dari ancaman AS. Gara-gara kendala dari AS, badan penyelesaian sengketa atau DSB Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) terpaksa shutdown karena kuorum atau jumlah anggota hakim minimnya tidak terpenuhi.

Biarpun para sekutu AS juga kerap kali diancam atau diperas oleh AS. Misalnya AS menuntut Jerman menghentikan proyek pembangunan pipa minyak Nordstream-2, mengancam surat kabar Politiken Denmark menyertai bukti bahwa pihaknya tidak menggunakan alat-alat elektronik buatan Huawei Tiongkok, kalau tidak akan berhenti berlangganan surat kabar tersebut.

Sejujurnya siapalah yang bersikap agresif dan berangan-angan mendominasi dunia, dunia jauh sebelumnya sudah tahu benar. Para politikus AS yang hanyut dalam “diplomasi koersif” bakal mendorong AS ke jalur “bangkrut”.

Komentar
谢晓裕