Kartu Kurs AS Yang Berniat Jahat Bahayakan Seluruh Dunia

2019-08-10 14:10:13  

   Departemen Keuangan AS baru-baru ini mencantumkan Tiongkok sebagai negara manipulator kurs, dan ini membelakangi peraturan multilateral dan merusak kesepahaman global.

   Kini, unilateralisme dan proteksionisme menjadi-jadi, dan seluruh dunia menghadapi risiko resesi yang semakin besar. Tiongkok dan AS adalah dua ekonomi terbesar dan dua pusat besar rantai nilai global, dan volume total PDBnya merupakan 40 persen PDB seluruh dunia. Hubungan ekonomi dan dagang bilateralnya berkaitan dengan prospek pertumbuhan ekonomi global. Sejak tahun lalu, pihak AS main tongkat tarif terhadap Tiongkok dan ini tak saja merugikan ekonomi dan dagang bilateral, dan juga dengan serius mendampak investasi dan konsumsi global. Baru-baru ini, pihak AS dengan terang-terangan membelakangi standar daftar pemantauan kebijakan kurs yang diumumkannya pada tahun 2016 dan secara paksa menetapkan Tiongkok sebagai negara manipulator kurs, dan ini tak pelak akan mendampak hubungan bilateral, mendatangkan kegoncangan pasar moneter global dan dengan serius menghambat perdagangan internasional dan rehabilitasi ekonomi global.

   Sementara itu, tindakan AS yang sembarangan melabeli negara-negara mungkin akan mendatangkan efek yang sangat buruk di seluruh dunia. Itu akan memperburuk lingkungan perkembangan ekonomi dan membahayakan operasi stabil sistem moneter internasional.

Dengan meninjau kembali sejarah perkembangan ekonomi dunia, naik turun kurs dalam skala besar sangat berbahaya dan sama sekali tiada manfaatnya.

 Di latar belakang hubungan ekonomi dan dagang Tiongkok-AS menegang, sejumlah orang pihak AS menfitnah Tiongkok memanipulasi kurs dengan beberapa siasatnya, yiatu selain mencari alasan untuk mengenakan tarif tambahan kepada Tiongkok untuk tahap selanjutnya untuk mengekang ekonomi Tiongkok, juga berniat untuk memberikan tekanan kepada Cadangan Federal untuk memperlonggar kebijakan moneter dan menstimulasi ekonomi AS, sementara memenuhi kebutuhan politik di dalam negeri AS.

  Semakin banyak ahli dan Analis AS menunjukkan, fluktuasi RMB belakangan ini merupakan tanggapan normal pasar terhadap ancaman pihak AS untuk mengenakan tarif tambahan terhadap Tiongkok dan bukan hasil manipulasi kurs oleh pihak Tiognkok. Mereka ternyata mempunyai observasi sadar terhadap masalah kurs RMB.

  Dari krisis moneter     Asia 1997 sampai krisis moneter global 2008 dan persengketaan perdagangan yang ditimbulkan dan ditingkatkan AS terus sejak 2018,Tiongkok selalu mempertahankan sistem kurs yang ditentukan pasar, tidak mengadakan devaluasi kompetitif, dan juga tidak menjadikan kurs sebagai instrumen kebijakan untuk menanggapi gangguan luar, dan selalu dengan aksi nyata memanifestasikan kewajiban  sebuah ekonomi yang bertanggung-jawab kepada pertumbuhan global.

Komentar
贲月梅