Politikus Asia Tenggara: Perang Dagang Tak Untungkan Ekonomi Global

2019-06-12 10:25:12  

Menghadapi AS yang memberikan tekanan ekstrim kepada Perusahaan Huaiwei dan perusahaan terkait Tiongkok lainnya, tamu asing yang menghadiri Seminar Partai Politik Tiongkok-Asia Tenggara digelar 31 Mei lalu menyatakan, perang dagang yang dilancarkan oleh AS tidak menguntungkan stabilitas dan perkembangan regional, bahkan seluruh dunia, tidak ada pemenang. Para tamu mengharapkan AS untuk segera menghentikan perang dagang, meningkatkan kerja sama global untuk mendorong kemajuan bersama umat manusia.

Direktur Pendidikan dan Penataran PDP Indonesia, Eva Kusuma Sundari mengatakan, Tiongkok dan AS adalah dua komunitas ekonomi terbesar di dunia, perang dagang tidak menguntungkan kedua pihak, juga tidak menguntungkan negara-negara lain, termasuk Indonesia.

Tiongkok adalah negara konsumsi terbesar minyak kelapa sawit Indonesia, proporsi minyak kelapa sawit dalam ekspor Indonesia relatif besar, sedangkan AS adalah negara investasi langsung yang terbesar ketiga bagi Indonesia, perang dagang sedang merusak perkembangan Indonesia. Sundari mengatakan, manusia hidup di satu bumi, kemaujuan memerlukan kerja sama dan upaya bersama berbagai pihak. AS yang meningkatkan tarif terhadap produk buatan Tiongkok akan merusak kepentingan setiap orang di dunia, tidak bermanfaat bagi perkembangan manusia, AS perlu segera menghentikan perang dagang.

Wang Kah Who, Sekretaris Partai Demokasi Negara dan Tindakan Malaysia Negara Bagian Perak, menurut pendangannya, pergesekan perdagangan akhirnya mungkin menimbulkan resesi ekonomi global, Malaysia sebagai anggota ASEAN akan didampak.

Anggota eksekutif Partai Palang Pracharath Thailand mengatakan, ekonomi Thailand sudah didampak oleh perang dagang. Perang dagang tidak menguntungkan Thailand dan semua negara anggota ASEAN, Thailand akan berupaya mencegah perkembangan unilateralisme.

Selain meningkatkan tarif, AS baru-baru ini menekan perusahaan iptek Tiongkok dengan alasan ancaman keamanan negara. Mengenai hal tersebut, Ketua Kelompok Pemuda Partai Demokrasi dan Keadilan Rakyat Malaysia, Simon Ooi mengatakan, perkembangan perusahaan iptek Tiongkok menguntungkan perkembangan iptek dunia, pembatasan dan tekanan ekstrim AS telah merusak tata tertib persaingan pasar yang adil.

Dia merasa khwatir atas pembatasan AS terhadap Perusahaan Huawei, karena kemajuan iptek akhirnya akan melayani perkembangan manusia. Sebagaimana diketahui, teknologi 5G milik Huawei telah mendahului seluruh dunia, perkembangannya tidak saja menguntungkan Tiongkok dan AS, tetapi juga menguntungkan negara-negara anggota ASEAN, termasuk Thailand.

Komentar
常思聪